10 Kisah Paling Inspiratif Orang yang Berkurban di Indonesia


5
95 shares, 5 points
10 Kisah Paling Inspiratif Orang yang Berkurban di Indonesia

Perayaan Idul Adha identik dengan penyembelihan hewan kurban. Kaum muslim akan berlomba-lomba untuk bisa menyembelih hewan kurban di hari raya ini. Manfaat berkurban sangatlah besar, terutama sebagai tanda syukur dan indahnya berbagi.

Namun, tidak semua orang bisa dengan mudah melaksanakan kurban. Banyak di antaranya yang harus bersusah payah untuk bisa memiliki hewan ternak yang akan dikurbankan. Dirangkum 10pedia.net dari berbagai sumber, kisah-kisah berikut ini layak untuk kita contoh. Simak 10 Kisah Paling Inspiratif Orang yang Berkurban di Indonesia:

10. Acoy (Pemulung)

Kisah pada 2012 ini masih membekas sampai sekarang. Sosok Acoy yang tinggal di daerah kumuh dekat pasar kembang Rawa Belong, Kebon Jeruk, Jakarta Barat adalah seorang pemulung. Niatnya sejak lama ingin berkurban seperti orang berpunya akhirnya kesampaian.

10. Acoy“Hari Senin malam ada kenalan yang datang ke rumah. Mereka memberi tahu kalau ada seorang dermawan yang akan membelikan kambing kurban. Saya pikir itu kambing kurban untuk disembelih di sini. Ternyata saya dibelikan kambing untuk berkurban,” kata Iwan, yang biasa disapa dengan Acoy. Setelah mendapat hewan kurban, hati dan pikiran Acoy setengah tidak percaya. Keinginannya bertahun-tahun akhirnya terwujud.

9. Sahati (Pemulung)

Lain lagi kisah Sahati (68) pada 2013 silam. Warga Kampung Kuta Lebak, RT 6 RW 5, Kelurahan Sriwidari, Kecamatan Gunung Puyuh, Kota Sukabumi ini sehari-hari bekerja sebagai pemulung. Hebatnya ia mampu menunaikan niatnya untuk berkurban, meski penghasilannya dari menjual plastik, botol, dan barang-barang bekas yang dikumpulkan tidak seberapa. Bagaimana ia bisa berkurban?

9. Sahati“Pokoknya saya pingin kurban. Karena itu, saya selalu sisihkan hasil keringat saya, meskipun cuma Rp 500 atau Rp 1.000 atau berapa saja. Baru beberapa bulan ini uang sering saya titipkan ke adiknya Bu RT,” kata Sahati. Kerja keras Sahati menyisihkan penghasilan receh demi receh hingga tujuh tahun itu pun akhirnya membuahkan hasil. Pada Minggu (13/10/2013) domba yang dia idam-idamkan pun tiba di pekarangan rumahnya untuk dikurbankan.

8. Mak Yati (Pemulung)

Pemulung botol bekas di sekitar Tebet ini membuat haru pengurus masjid Al Ittihad, Jumat (26/10/2012). Salah seorang pengurus masjid, Syaiful, menceritakan bagaimana sosok Mak Yati sebagai seorang pemulung yang juga sering mampir di masjid.

Baca juga: 10 Sniper Paling Terkenal Sepanjang Sejarah

8. Mak YatiSyaiful menuturkan pada Senin (22/10) malam dengan menumpang bajaj, Mak Yati membuat kaget pengurus masjid. Dia membawa dua ekor kambing beserta rumputnya ke Masjid Al Ittihad untuk berkurban. Tak ayal hal tersebut membuat pengurus masjid terharu. “Kita nggak nyangka Mak Yati bawa kambing malam itu, ya kita terharu lah. Orang sehari-hari dia cuma mulung, tapi punya niat untuk menyumbangkan hewan kurban untuk lebaran ini,” imbuh Syaiful.

7. Yu Timah (Penjual Nasi Bungkus)

Penjual nasi bungkus asal Kebumen, Jawa Tengah pada Idul Adha 2014 lalu membuat banyak orang malu. Yu Timah (60) yang tinggal di rumah berdinding bambu dan berantai tanah dengan pekerjaan hanya berjualan nasi bungkus, bisa membeli seekor kambing untuk dikurbankan.

7. Yu Timah
Gambar ilustrasi

Meskipun penghasilannya dari berjualan nasi bungkus tak seberapa, didukung niat yang kuat akhirnya Yu Timah bisa berkurban.

6. Bambang (Tukang Becak)

Penarik becak asal Purworejo, Jawa Tengah bernama Bambang menjadi buah bibir pada tahun 2013 silam. Seekor sapi ia kurbanan pada perayaan Idul Adha. Harga sapi yang lumayan mahal membuat banyak tetangganya salut dan heran, dilihat dari profesi Bambang yang hanya seorang tukang becak.

Baca juga: 10 Masa Kelam dalam Sejarah Manusia

6. BambangBambang selama lima tahun menabung di bawah jok becaknya. Uang itulah yang ia gunakan buat membeli sapi. Hal itu tentu membuat tetangga dan keluarganya ikut senang dan bahagia, tentunya juga termotivasi akan kegigihan Bambang untuk berkurban meskipun hidup dalam keterbatasan.

5. Subari (Disabilitas Penjual Balon)

Berkurban saat Idul Adha selalu menjadi keinginan setiap umat muslim, tak terkecuali bagi seorang penjual balon bernama Subari (63) di Medan yang patut menjadi teladan. Meski memiliki keterbatasan finansial, hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk berkurban setiap tahun. Subari yang juga seorang disabilitas (tanpa sebelah kaki) itu rela menyisihkan rupiah demi rupiah meski pendapatannya yang hanya Rp 20 ribu sampai Rp 50 ribu per hari. Dengan menggunakan tongkat, ia menjajakan balon warna-warni yang ditopangnya di punggung tak hanya kepada anak-anak, tapi juga mahasiswa.

5. SubariSubari telah berjualan balon sejak tahun 2013 lalu. Meski memiliki pendapatan yang tak seberapa, pria berdarah Tionghoa dan Madura ini tetap menghidupi keluarga kecilnya dengan cukup. Bahkan ia setiap harinya tetap menyisihkan uang untuk berkurban di Idul Adha. Padahal, disamping harus menafkahi keluarganya, Subari juga harus membiayai anak bungsunya yang sedang mengenyam pendidikan di Universitas Harapan Medan. Subadri bercerita dia menabung di kelompok wirit atau pengajian hingga diputuskan tahun ini cuukup untuk kurban. Subari menekankan, jika memiliki niat maka hal itu akan terwujud. Sebab meskipun ia menabung untuk berkurban setiap tahunnya, ia dan keluarga tidak pernah merasa kekuarangan.

4. Fuad Khoirul Umam (Pelajar)

Niat lama Fuad Khoirul Umam, 15 tahun, untuk berkurban akhirnya terwujud tahun ini. Pelajar kelas VIII SMP Juara di Panyileukan, Bandung, itu membeli seekor domba seharga Rp 2 juta. Uang membeli domba berasal dari tabungan hasil keuntungan berjualan es yoghurt di sekolahnya selama 14 bulan. Menurut Fuad, niatnya berkurban muncul saat pamannya membeli domba pada Hari Raya Idul Adha sebelumnya.  Setiap Senin sampai Jumat, Fuad menjual es yoghurt di sekolahnya. Keuntungan per hari rata-rata Rp 10 ribu. Kadang uangnya dipakai jajan Rp 1.000-2.000 di sekolah.

Baca juga: 10 Gambaran Surga dalam Mitologi Dunia

4. Fuad Khoirul Umam
gambar ilustrasi

Seringnya, saat jam istirahat, ia membuka bekal nasi dari rumah. Agar menghemat ongkos, ayahnya mengantar ke sekolah dengan sepeda motor. Pulangnya, ia sering berjalan kaki 1,5 kilometer ke rumahnya di Kampung Jati, Pasir Biru, Cibiru. Setiap bulan, keuntungannya berdagang yang bisa ditabung berkisar Rp 200 ribu. Uang kumpulannya pernah dipakai Rp 200 ribu untuk ganti kacamata. Setelah terkumpul Rp 2 juta, ia pun bisa membeli seekor domba yang akan dipotong di sekolahnya besok, 6 Oktober 2014. Menabung dan berjualan sudah dilakoni Fuad sejak kelas 2 sekolah dasar. Di sekolah ia berjualan gantungan kunci. Tabungannya kadang dipakai untuk membeli komik Jepang serta novel. Kebiasaannya berlanjut hingga berjualan es yoghurt sejak kelas VII di SMP swasta yang gratis tersebut. Es yang tak habis dibawanya pulang untuk disimpan di kulkas rumah.

3. Mbah Kaminem (Pembuat Sapu Lidi)

Seorang nenek bernama Mbah Kaminem (73) warga Dusun Nepi, Desa Krangan, Kecamatan Galur, Kulonprogo, DIY, yang hidup dalam kondisi ekonomi pas-pasan memiliki tekad untuk bisa berkurban di Hari Raya Idul Adha. Selama tujuh tahun, dia menabung Rp3.000 per hari agar bisa membeli hewan kurban. Mbah Kaminem si pembuat sapu lidi diketahui sudah puluhan tahun melakoni pekerjaannya. Dia tak kenal lelah walaupun kini semua indra di tubuhnya sudah mulai melemah. Kendati demikian disisa hidup yang tak akan lama, dia ingin bisa berbagi dengan sesama.

3. Mbah KaminemDia menceritakan, perjuangannya mengumpulkan pundi-pundi rupiah tidaklah mudah. Jika dalam keadaan sehat, dia dapat membuat empat hingga lima buah sapu lidi per hari. Namun kala kondisi kesehatannya turun, dia hanya mampu membuat satu atau dua sapu. Terlebih sejak tujuh tahun lalu dia mengalami gangguan pengelihatan setelah mata kanannya dioperasi karena glaucoma. Menurut salah seorang warga Din Subandini, Mbah Kaminem merupakan sosok yang sederhana. Janda yang mempunyai delapan anak itu juga dikenal sebagai ahli ibadah. Hampir setiap hari dia tidak pernah absen untuk ikut melaksanakan salat wajib berjamaah di masjid, kecuali jika kesehatannya terganggu.

2. Aco/ Djafar (Kuli Pikul, Disangka Orang Gila)

Namanya Djafar, tapi warga dan pengunjung Pasar Sentral Kendari mengenalnya sebagai Aco. Oleh masyarakat sekitarnya, ia dianggap kurang waras. Pekerjaannya sebagai kuli pikul di Pasar Sentral Kota Kendari. Aco tak punya KTP dan tak tahu kapan dilahirkan. Namun, ia masih bisa diajak berkomunikasi. Tentu seperti sinyal seluler di pelosok, kadang nyambung kadang tidak. Yang jelas, Aco adalah salah satu warga Kendari yang ikut berkurban satu ekor sapi. “Orang gila bisa kurban sapi?” begitu kira-kira pertanyaan yang selalu muncul.

Baca juga: 10 Benda Mitologi Paling Menakjubkan di Dunia

2. Aco (Djafar)Aco sukses menabung untuk membeli seekor sapi dan menyumbangkan sapinya itu untuk Hari Raya Idul Adha pada Rabu, 22 Agustus 2018. Niat dan tekad Aco ini sempat ditolak oleh keluarganya. Namun, karena keteguhan hatinya, Aco tetap berkurban. Sapi milik Aco memang tidak terlalu besar dan berat, harganya Rp 8,3 juta. Aco mulai kerja sebagai kuli pikul pada akhir 2016. Sebelumnya, ia berstatus karyawan sebuah perusahaan distributor pangan. Ia dipecat karena dianggap lalai saat bekerja. Sejak itu, Aco seperti hilang ingatan. Ia dianggap kurang waras. Sekolahnya yang hanya sampai kelas 4 SD dan tak bisa membaca maupun menulis, mendukung anggapan ini karena sering susah diajak berkomunikasi.

1. 7 Bocah Patungan Beli Sapi

Yang lagi heboh di 2019 ini, tujuh bocah asal Kampung Ardio, Bogor Selatan, Jawa Barat, membuat kagum publik. Di suai yang masih beli, ketujuh bocah berusia belasan itu menunaikan niat mereka berkurban di Idul Adha tahun ini. Ketujuh bocah tersebut yaitu Abu Bakar, 13 tahun, Zhilal, 11 tahun, Sauqi, 11 tahun, Fauzan, 11 tahun, Sukatma, 12 tahun, Zalfa, 12 tahun dan Yudi, 18 tahun.

1. 7 Bocah Patungan Beli SapiMereka menyisihkan uang jajan selama 10 bulan demi bisa membeli seekor sapi kurban. Niat berkurban sapi muncul dari Abu Bakar. Dia lalu mengajak enam temannya untuk sama-sama menabung agar bisa berkurban. Selain tabungan, ketujuh anak ini mencari uang tambahan dari penampilan marawis. Mereka memang tergabung dalam grup marawis kampung dan kerap diundang untuk tampil di sejumlah acara.

Upah yang didapat mereka sisihkan untuk menambah biaya membeli sapi. Proses mereka menabung juga tidak selalu mulus. Karena sering mengalami kendala, ketujuh bocah itu memutuskan menitipkan uang mereka ke seorang warga. Setelah 10 bulan, tabungan mereka terkumpul hingga Rp21 juta. Mereka lalu membelanjakan uang tersebut untuk membeli seekor sapi ke peternak di daerah Ciomas. Kisah mereka membuat si pemilik sapi terharu lalu memviralkannya ke media sosial. Tak hanya itu, si penjual sapi juga memberi potongan harga lantaran kagum dengan perjuangan mereka. Alhasil, seekor sapi seharga Rp21 juta bisa didapat dengan harga Rp19,5 juta.

Demikian 10 Kisah Paling Inspiratif Orang yang Berkurban di Indonesia, semoga bermanfaat. Jangan lupa share 10pedia.net kepada semua temanmu, karena berbagi itu indah. [*]


What's Your Reaction?

Suka Suka
5
Suka
Keren Keren
0
Keren
Kaget Kaget
0
Kaget
Takut Takut
0
Takut
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Sedih Sedih
0
Sedih
Muntah Muntah
0
Muntah
Marah Marah
0
Marah